Apes Factor

19.14

"Bang Indra, udah lewat 9 Maret. Gimana pengumuman X Factor?"

"Bang Indra, kapan wisuda?"

"Bang Indra, kribonya ke mana? Abis potong rambut, berat badan langsung turun berapa kilo?"

Oke, oke, oke. Biarkan saya bercerita.


,,,,,,

Ya, benar, X Factor Indonesia season kedua bakal dimulai. Dan dari awal, sebagai tukang ngamen tanpa arah, saya emang niat ikutan. Yang jadi masalah waktu itu: saya belum tahu jadwal audisinya. Dan ketika tahu jadwalnya di Malangtanggal 11 Januari, saya udah terlanjur deal talkshow di Jambi. Di tanggal yang sama.

Apes.

Saya putar otak. Dua-duanya harus jalan. Saya juga nggak mau ngebatalin talkshow di Jambi. Takut dilemparin batu akik sama dede-dede setempat. Akhirnya, dengan penuh rasa syukur, sebuah solusi muncul. Ada special hunt di Surabaya tanggal 12 Januari. Itu artinya, kelar talkshow dari Jambi, besoknya saya langsung terbang ke Surabaya.

Gas pol.

,,,,,,

Sesuai rencana, talkshow di Jambi tanggal 11 Januari berjalan dengan lancar. Dede-dede Jambi nggak jadi ngelemparin saya pakai batu akik.

Pada kesempatan talkshow kali ini, Ibu ikutan.

"Nak, Ibu ikut, dong, sekali-kali. Biar kayak manajer," katanya. "Sekalian jalan-jalan," tambahnya.

Sudah jelas, tujuan utama Ibu ada di kalimat kedua.

Saya dan Ibu tiba di Surabaya sekitar pukul 14.30 WIB. Pakde John dan Dinda sudah menunggu di bandara. Kenapa Dinda harus ikut?

Saya nggak punya waktu buka-buka Google Maps buat nyari lokasi special hunt-nya. Kebetulan lagi kangen juga.

Sudah jelas, tujuan utama saya ada di kalimat kedua.


"Ini keburu, nggak, ya?" tanya saya sambil menatap jalan dan menggoyang-goyangkan kaki. Gelisah. "Acaranya pukul tiga, nih."

"Udah, tenang aja. Pasti sempet. Tempatnya di Purwacaraka Margorejo, kan? Nggak terlalu jauh dari bandara, kok," jawab Dinda, menenangkan.

Dinda memperhatikan saya yang lagi celingak-celinguk ke arah jalan di depan, "Kamu nggak capek? Abis nyanyi-nyanyi dan teriak-teriak di Jambi gitu."

"Lumayan capeklah. Tapi, mau gimana lagi? Dadakan gini. Harus dilakuin semuanya."

Perasaan saya nano-nano. Antara capek, buru-buru, dan bingung. Bingung mau lagu apa. Pilihan lagu emang banyak, tapi saya nggak tahu yang mana yang harus saya pilih buat audisi nanti. Biasa, problematika anak audisi.

Untuk format audisi, special hunt ini sama kayak bus audition, tapi dengan skala yang lebih kecil. Kebetulan saya dikasih info special hunt ini sama Mas Doncret, salah satu orang di Fremantle yang tahu kalau saya mau ikutan.

,,,,,,

Special Hunt Surabaya



Sekitar pukul 15.10 WIB, kami tiba di Purwacaraka Margorejo. Lokasinya tepat di pinggir jalan. Motor-motor dan mobil-mobil sudah berjejer di sekitarnya. Di dekat pintu masuk terlihat beberapa muda-mudi yang tidak lain adalah lawan-lawan saya. Tanpa banyak tengak-tengok lagi, saya dan Dinda masuk ke dalam. Ibu dana Pakde John kembali ke bandara karena bagasi transit penerbangan kami mengalami gangguan dan baru bisa diambil sekarang.

"Atas nama siapa, Mas?" tanya mbak-mbak di office desk Purwacaraka.

"Indra Widjaya."

"Tahu special hunt ini dari mana?"

"Dari Fremantle, Mbak."

"Oh, oke. Silakan ditunggu. Grup nomor sepuluh, ya."

"Sepuluh? Ini sekarang udah nomor berapa, Mbak?"

"Baru grup tujuh, Mas."

Yes! Nggak telat! batin saya.

Setelah melengkapi data di formulir pendaftaran, saya duduk di deretan kursi yang sudah tersedia. Ruang tengah studio diubah menjadi semacam ruang tunggu audisi. Pintu di kiri-kanan ruang tengah ini masih dipakai untuk kegiatan Purwacaraka Studio seperti biasa. Beberapa anak didik terlihat keluar-masuk: ada yang seumuran SMA, SMP, SD, dan bahkan sepertinya ada yang masih TK. Nggak heran, sih, zaman sekarang orangtua kepengin bakat anaknya keasah sejak dini. Cuma, ya, terasa beda aja dari sudut pandang saya yang dari kecil nggak pernah les musik. Waktu TK sampai SD, hobi saya cuma remes-remes Mie Remez.

"Permisi, minta perhatiannya sebentar."

Seorang mas-mas dengan secarik kertas yang keluar dari ruang audisi membuat seisi ruangan hening.

"Yak, untuk grup tujuh, nama yang saya sebutkan silakan masuk ke ruangan berikutnya. Bagi yang namanya tidak disebut, boleh pulang."

Nama-nama pun dibacakan. Yang disebut, masuk ke ruang berikutnya. Yang tidak disebut, melangkah keluar dengan raut muka kecewa. Beberapa masih tinggal, berharap mas-masnya salah sebutin nama.

Saya nelen ludah.

"Sayang, mati aku," kata saya, datar.


"Halah, kamu kayak nggak pernah ikut ginian aja."

"Iya, sih. Tapi, tetep aja. Serem. Gimana kalo di dalem itu Anang?"

Dinda menatap saya tajam. "Sayang. Plis."

Iya, kami sama-sama tahu, tidak ada Anang di acara ini.

Satu per satu antrean grup berkurang. Saat grup sembilan sudah memasuki pertengahan, pundak saya ditepuk dari belakang.

"Mas Indra! Mbak Dinda!"

Saya menoleh, plonga-plongo. Seorang cewek berambut hitam panjang sedang tersenyum ke arah saya dan Dinda. Setelah beberapa detik mengernyit, barulah saya mengenalinya.

"Amel? Eh, apa kabar, Mel? Ikutan juga?" jawab saya.

Saya dan Amel bertemu di bus audition Malang, Idol 2014. Namun, dari lima orang perwakilan Malang, yang dapat golden ticket di Jakarta hanya dua orang: saya dan Windy (lagi). Walaupun tidak lolos ke top 100 Idol tahun lalu, Amel rupanya tidak menyerah. Keren. Sama seperti saya. Keren juga.

"Iya, Mas. Hehehe," kata Amel, masih tersenyum. "Mas Indra grup sepuluh, ya? Wah, semoga sukses!"

"Iya, makasih, Mel. Kamu udah selesai, ya?"

"Udah, Mas."

"Lolos?"

"Lolos." Amel melebarkan senyumnya.

"Wah, selamat, ya, Mel," kata Dinda sambil melirik ke arah saya. "Tuh, kamu harus lolos. Biar kalian nanti bareng-bareng."

"I-iya, iya. Selamat, ya, Mel!"

Badan saya mulai lemes-lemes nerpes.

"Wah, makasih, Mas Indra, Mbak Dinda! Aku disuruh datang lagi tanggal 14 Januari nanti buat tahap selanjutnya, video booth."

"Video booth? Barengan big audition, dong? Berarti mulai dari special hunt di Malang yang aku nggak bisa ikut itu, special hunt sekarang ini, sama big audition, nanti disatuin semua?"

"Iya, Mas. Kayaknya gitu. Audisinya juga, kan, dua hari. Dari tanggal 14 sampai 15." 

"Oh, iya. Aku juga udah kepo-kepo, kok. Berarti, kalo nggak lolos hari ini, masih ada harapan tanggal 14 dan 15, ya."

"Hush, jangan bilang gitu!" Dinda mencubit lengan saya. "Optimis hari ini, dong!"

"Iya, Mas. Optimis aja. Mas Indra, mah, pasti lolos," sambung Amel, masih dengan senyum 'AKU LOLOS' yang dari tadi ditunjukkannya. "Ya udah, Mas, Mbak. Aku balik ke Malang dulu. Semoga sukses, ya!"

Amel pun pulang dengan riang.

Ngelihat Amel lolos, saya bukannya termotivasi, malah tambah nervous. Semakin antrean berkurang, pikiran saya semakin nggak karuan. Pengalaman, sih, pengalaman, tapi percayalah, nervous dan segala macam ketakutan masih saya rasakan.

Waktu terus berjalan dan nggak kerasa udah masuk ke grup sepuluh. Saya nggak tahu kapan bakal dipanggil. Mas-mas dengan pakaian serba putihmulai dari baju-celana-sepatu dan mungkin sempakberdiri untuk siap-siap masuk ke ruang audisi paling pertama.

"Mas itu penyanyi kafe Surabaya, tuh. Dari Ambon," bisik Dinda.

"Aku kira Glenn Fredly."

Dinda cekikikan.

Eh, baru beberapa detik masuk, masnya keluar lagi dengan buru-buru. Rupanya topinya ketinggalan. Topinya tentu saja berwarna putih. Sebelum masuk lagi, dia tersenyum ke arah deretan antrean. Giginya juga putih.

Saya mencoba untuk tetap rileks. Gitar saya mainkan pelan-pelan. Tapi, apa mau dikata, yang ada di kepala cuma, NANTI BAWAIN LAGU APA, NIH? Grup sepuluh sudah berjalan dan pikiran saya masih ke mana-mana. Ditambah lagi, grup sembilan tadi yang lolos cuma satu orang. Satu orang!

Dear, John Mayer.

Jokiin aku, plis.

Beberapa menit kemudian, Glenn Fredly keluar. Kali ini topinya nggak ketinggalan di ruang audisi.

Baru aja Dinda mau nanya ke Glenn Fredly gimana keadaan audisi di dalam, ada suara panggilan untuk giliran berikutnya.

"Indra Widjaya, silakan masuk."

Mampus.

,,,,,,

"So-sore, Mas," sapa saya, gugup.

"Sore," kata Mas Juri yang duduk di kursi lipat sambil memperhatikan catatan-catatan yang sudah dibuatnya dari tadi. Lambang FremantleMedia di lengan kanannya menunjukkan bahwa dia bukan mas-mas Purwacaraka.

Hanya ada dua orang di dalam ruang audisi. Saya dan Mas Juri. Baguslah. Kalo udah kepepet, saya bisa nawarin tari perut sebagai solusi akhir. Siapa tahu dia bisa berubah pikiran.

"Indra Widjaya," lanjutnya. "Mau nyanyi apa?"

SAYA JUGA BINGUNG MAS, MAU NYANYI APA, jawab saya. Dalam hati tentunya.

"Anu, Mas."

"Anu?"

"Jangan Cintai Aku Apa Adanya."

Udah. Cukup bingungnya. Lagu itu kayaknya paling bisa saya bawain di saat kondisi mendesak kayak gini. Aransemennya kebetulan saya ganti jadi ala-ala reggae gitu. Biasanya kalo audisi gini durasi lagunya nggak lama-lama. Jadi, motong lagunya langsung aja: bait pertama, reff, dan langsung bridge.

Dengan satu helaan napas panjang, saya membenarkan posisi gitar, lalu membuka mulut.

Tak sulit mendapatkanmu~
Karena sejak lama kau pun mengincarku~
Tak perlu lama-lama~ Tak perlu banyak tenaga~
Ini terasa mudah~

Kau terima semua kurangku~
Kau tak pernah marah bila ku salah~
Kau selalu memuji apa pun hasil tanganku~
Yang tidak jarang payah~

Jangan cintai aku apa adanya~ Jangan~
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan~

Aku ingin lama jadi petamu~
Aku ingin jadi jagoanmu~

"Yak, cukup," kata Mas Juri sambil mengangkat tangan kanannya. "Sekarang coba nggak pake gitar."

NGGAK PAKE GITAR? SAYA PALING KAGOK KALO NGGAK ADA GITAR. SEKALIAN NGGAK PAKE CELANA AJA GIMANA, MAS? jawab saya dalam hati.

"Oke, Mas," jawab saya.

"Mau lagu apa?"

"Lost Stars."

Fak. Kenapa saya milih 'Lost Stars'? Belum hafal! BELUM HAFAL! Ah, apa boleh buat. Udah terlanjur kacao, pake o.


God~ tell us the reason~
Youth is wasted on the young~
It's hunting season~ and the lambs are on the run~
Searching for meaning~

But are we are~ lost stars~
Trying to light up the dark~


Saya berhenti.

"Loh, udah?"

"Udah, Mas."

Saya hafal liriknya cuma sampai situ. Bagian selanjutnya masih sering ketuker. Padahal, itu klimaks lagunya.

"Waaaah...." Mas Juri geleng-geleng. "Oke, deh, Ndra. Terima kasih."

,,,,,,


Antrean grup sepuluh terus berkurang. Usai keluar ruang audisi, saya tidak banyak bicara. Hasilnya benar-benar saya pasrahkan ke Mas Juri. Seandainya saya jadi Mas Juri itu pun, mungkin saya tidak akan memberikan berita baik.

"Udah, tungguin aja pengumumannya. Mau kamu mikir gimana pun, hasilnya tetep harus kita tunggu," kata Dinda dengan nada keibuan.

Saya hanya bisa tersenyum.

"Permisi, minta perhatiannya," kata mas-mas panitia yang muncul tiba-tiba seperti biasa.

Deg.

Belum sempat saya ngatur napas buat nyiapin mental, mas-masnya langsung melanjutkan kalimatnya.

"Maaf, untuk grup sepuluh, boleh pulang semuanya."

Duar.

Yep, sesuai dengan perkiraan. Saya nggak lolos.


,,,,,,

Karena jalur special hunt sudah lenyap di depan mata, maka tidak ada pilihan lain selain mengikuti big audition di Surabaya tanggal 14 dan 15.

Big.

Audition.

Itu.

Artinya.

Harus.

Mengantre panjang.

Kayak.

Rambutnya.

Virzha.



Dari dua pilihan hari audisi di Surabaya nanti, tanggal 14 adalah pilihan terbaik. Ya iyalah. Kalo nggak lolos, bisa coba lagi besok.

Waktu luang selama satu hari saya manfaatin buat pulang ke Malang. Lumayan, bisa istirahat, persiapan mental, dan atur strategi. Ngomong-ngomong soal strategi, ada satu keputusan yang tiba-tiba terlintas di benak saya: nggak mau pake gitar.

Selama ini, setiap audisi, saya selalu ditemani gitar. Apa pun lagunya. Dan entah kenapa, tiba-tiba kepengin aja nggak pake gitar. Biar beda gitu. Siapa tahu hoki. Ehm.


,,,,,,


14 Januari 2015

Hari H Big Audition Surabaya

Saya dan Ibu bela-belain nginap di Surabaya satu malam sebelum hari H di salah satu hotel di daerah Manyar. Lumayan, jadi nggak tergesa-gesa. Kalo berangkat pas hari H, takut keeliminasi sebelum nyanyi. Nggak keburu. Kebetulan, hotelnya dekat dengan lokasi big audition nanti: kampus C UNAIR.

"Yakin nggak pake gitar?" kata Dinda yang ikut mengantar.

"Nggak tahu juga, sih. Kepengin aja. Biar beda."

"Tapi, orang-orang, kan, nandain kamu sama gitar."

"Ya, justru itu, Sayang. Biar beda."

Semakin ditanya begitu, saya semakin bersemangat untuk tidak memakai gitar. Saya pasti bisa lepas dari gitar. Enyah kau, senar-senar yang langsing. Enyahlah!

Sekitar pukul delapan pagi, kami tiba di kampus C UNAIR.

"Itu dia tempatnya. Yang rame-rame itu," kata saya sambil menunjuk ke lapangan Airlangga Convention Center yang sudah dikelilingi oleh banner-baner X Factor. Dan, tentu saja, antrean manusia yang panjangnya kayak rambut Virzha tadi. Coba lihat lagi, deh. Asli. Panjang.

Karena nggak mau dapat giliran terakhir-terakhir, saya buru-buru turun dan masuk ke antrean. Ibu dan Pakde John menunggu sambil berlindung dari terik matahari di sekitar Airlangga Convention Center. Ibu emang kayak gitu, tiap ada ginian, pasti mau ikutan. Toh, dia nggak sendiri. Banyak pengantar lain yang udah datang dari tadi pagi. Bahkan, ada bapak-bapak yang sengaja bawa tikar sambil nontonin antrean. Ya, menunggu memang harus setotalitas itu.

Tenang, Ibu tidak ikut.


"Pukul delapan aja udah segini antreannya. Padahal baru buka pukul sepuluh nanti," kata Dinda yang berdiri antre di sebelah saya. Dahinya agak mengernyit terkena sinar matahari pagi.

"Aduh, kamu nepi ke sana aja sama Ibu. Ngapain ikut antre?"

"Nggak, ah. Aku di sini aja. Mau ngerasain antre. Nanti kalo giliran registrasi kamu udah deket, baru aku pergi. Hihihi."

Dinda malah tambah ndusel-nduselin kepalanya di bahu kanan saya. Bawaannya pengin saya gendong. Tapi, setelah mikir antrean sampai ke dalam nanti masih sangat panjang, kayaknya malah saya yang pengin minta gendong.

Saya memperhatikan orang-orang sekitar. Belum ada yang saya kenal. Beberapa orang memandangi saya dengan tatapan 'Kayaknya Pernah Lihat, Tapi Di Mana, Ya?'. Beberapa lagi langsung menegur, "Mas Indra, ya? Nggak kapok ikutan audisi?" Untung ada Dinda, saya jadi nggak mati gaya.

Di saat saya lagi plonga-plongo nyari kenalan, sebuah tangan kekar menepuk pundak saya.

"Ndra!"

Tangan kekar itu meremas pundak saya dengan penuh kelembutan. Saya pun membalikkan badan sambil berharap Dinda tidak berpikir kalau saya punya simpanan mas-mas kekar.

Dari tangan, pandangan mata saya pelan-pelan bergerak menuju ke dada. Dari kaus polos abu-abunya yang tipis, dadanya kelihatan bidang banget. Mungkin level kebidangan dada orang ini adalah: tetenya bisa digoyang-goyangin sesuai kemauan. Setelah hampir lupa diri ngelihatin dada, akhirnya saya mengalihkan pandangan ke mukanya. Saya pun langsung mengenalinya.

Namanya Timotius, atau biasa dipanggil Tim. Tim adalah teman seperjuangan di Idol 2014 dulu. Dia ikut audisi di Surabaya. Bagi yang lupa, bisa dilihat di sini.

"Tim! Masih kekar aja!" sapa saya, jujur. "Sini, langsung antre di belakangku aja. Biar kita bareng."

"Oke, Ndra," kata Tim sambil melepas topi koboi hitam andalannya. Dia juga membawa sebuah gitar, lengkap dengan hard case yang tahan bantingwalaupun dibanting oleh dia sendiri.

Syukurlah, akhirnya ada barengan.

Kami bertiga pun ngobrol-ngobrol soal proses audisi. Ada dua proses penjurian: juri lokal dan video booth. Dari antrean ini, para peserta dikumpulin dulu di dalam Convention Center. Diatur sedemikian rupa per kelompok. Kalau udah tiba gilirannya, barulah masuk ke beberapa bilik yang udah tersedia untuk audisi. Juri-juri lokal terpilih di dalam bilik-bilik itu yang akan mutusin apakah peserta lolos atau nggak. Jika lolos, akan langsung ke tahap video booth: nyanyi direkam kamera di depan tim Fremantle dan RCTI. Bila tidak lolos, ya, wis. Pulang. Nonton TV.

"Biasanya, habis video booth, kita langsung disuruh ke ruang interview. Selesai interview, baru boleh pulang. Tunggu ditelepon buat dipanggil ke Jakarta. Audisi sama juri utama," kata saya, mengakhiri. "Kurang lebih kayak Idol, lah."

"Kayaknya pengalaman banget, Mas?" kata Dinda, santai.

Tim tertawa. Suara ketawanya berat. Tetenya goyang-goyang.

Waktu terus berputar. Antrean semakin panjang ke belakang. Dan sekitar pukul sepuluh, seorang mas-mas berkupluk merah dari RCTI membuat hening antrean.

"SELAMAT PAGI, SURABAYAAAAAAAAAA!" seru Mas Kupluk Merah dari balik toa.

"SELAMAT PAGI!" jawab para peserta.

"MANA SEMANGATNYA, SURABAYAAAAAA?!"

Sorak-sorai para peserta diiringi riuh tepuk tangan menggema di seantero Convention Center. Mas Kupluk Merah lalu menjelaskan urutan-urutan audisi, tidak jauh berbeda dari perkiraan saya sebelumnya. Peraturan-peraturan simpel pun dijelaskan: mulai dari tidak boleh ada rokok di depan kamera, sampai harus mengikuti semua instruksi panitiatermasuk urusan koreografi.

Iya, koreografi.

"POKOKNYA KALAU SAYA KASIH ABA-ABA TEPUK TANGAN, JANGAN BERHENTI SAMPAI SAYA BILANG 'CUT', MENGERTI?"

"MENGERTI!"

"OKEEEH! BIAR SEMANGAT, ANGKAT TANGAN SEMUA KE ATAS!"

Seperti kumpulan minions yang baru dipecut massal sama guru BK, kami semua nurut-nurut aja sama masnya. Semua tangan telah terangkat.

"SEBELUM ITU, KAMI AKAN MEMUTAR LAGU. SAAT LAGUNYA SUDAH DIPUTAR, SAYA MOHON TANGAN KALIAN DIAYUNKAN DARI KIRI KE KANAN. HARUS SERENTAK. MENGERTI?"

"MENGERTI!"

"BAGUS! MARI KITA MULAI." Dengan satu aba-aba lambaian tangan, masnya berseru, "OOONE..., TWOOO..., THREE..., ACTIOOOOOON!"

Dan terdengarlah lirik yang tidak saya duga:


OPPA GANGNAM STYLE!!!

Seseorang di kanan atas yang lagi sok funky pake-pake headphone di leher itu adalah saya.

Seolah-olah sudah terhipnotis massal, tangan kami bergerak dengan sendirinya. Ekspresi kami dituntut harus ceria. Ada tatapan kosong sedikit saja, pasti kena tegur. Mas Kupluk Merah semakin mengontrol suasana.

"KELUARKAN EKSPRESINYA, SURABAYAAAAAA!"

"WUUUU HUUUUUUUUUUUUUU!" sorak kami, nurut.

Setelah beberapa menit melambaikan tangan dengan gembira, musiknya berhenti. Mas Kupluk Merah lanjut memberi aba-aba tepuk tangan.

"CUT!" seru Mas Kupluk Merah, menghentikan tepuk tangan kami. "TERIMA KASIH! CROWD SURABAYA KEREN BANGET!"

Mas Kupluk Merah kode-kodean dengan cameraman di belakangnya, lalu berseru lagi.

"YAK, SUDAH CUKUP LATIHANNYA. SEKARANG, AYO TAKE BENERAN!"

Kampret.

Menit-menit berikutnya berlalu dengan kegiatan joget, tepuk tangan, dan joget lagi. Namun, masih belum ada satu pun peserta yang melambaikan tangan untuk menyerah. Ya, mental kami sudah bulat: berjuang sampai akhir.

Di saat antrean sudah mau maju untuk masuk ke dalam Convention Center, muncul Robby Purba. Setelah digosipkan akan diganti, ternyata X Factor tetap memilihnya sebagai host. Dia pun cuap-cuap di depan kamera untuk membuka audisi seperti biasa.

Usai pembukaan dari Robby Purba yang diakhiri dengan menyilangkan tangan ke atas secara massal, big audition Surabaya hari pertama resmi dimulai. Dinda pun keluar barisan.

Antrean akhirnya bergerak maju.


,,,,,,

Tahap 1: Juri Lokal

Suasana di dalam Convention Center jauh lebih nyaman daripada di luar: ber-AC, lebih tenang, dan nunggunya sambil duduk. Peserta yang sudah masuk ke dalam langsung dibagi ke kategori solo dan grup. Untuk menjaga supaya tidak mati gaya, saya tetap berdekatan dengan Tim.


Annabelle alias Jeng Kellin kebanyakan begadang nongol lagi.
Sambil duduk, beberapa orang kembali menatap saya dengan tatapan 'Kayaknya Pernah Lihat, Tapi Di Mana, Ya?'. Beberapa lagi bisik-bisik ke teman di sebelahnya. Dan lebih canggungnya, pas ngecek Twitter, ada yang mention, "Mas, aku ngantre di belakangmu," sambil twitpic foto rambut saya dari belakang. Belum selesai sampai di situ, mbak-mbak berjilbab di depan saya balik badan dan bertanya, "Mas Indra, nggak kapok ikutan audisi?"

Ingin sekali saya berlindung di dadanya Tim.

Suara nyanyian dari bilik-bilik audisi mulai terdengar sahut-sahutan. Yang mentalnya kurang bagus, pasti langsung dag-dig-dug. Berhubung saya mentalnya kurang bagus, memakai headphoneyang dari awal saya kalungkan di leheradalah pilihan yang terbaik.

Jarum jam terus bergeser ke kanan. Sekitar pukul dua siang, giliran saya dan Tim semakin dekat. Kami dibagi per kelompok, sepuluh-sepuluh. Di grup saya, Tim duduk di urutan kedua, sedangkan saya ketiga. Kami duduk di kursi yang sudah terbaris rapi di depan bilik-bilik audisi.

"Di dalem ada jua juri, Ndra," kata Tim sambil menoleh sedikit ke saya di belakang. "Kayaknya pengumumannya terakhir, habis kita semua selesai."

"I-iya, Tim," jawab saya.

Peserta pertamaseorang cowok berambut jabrik—sudah masuk dan terdengar menyanyikan 'Bukannya Aku Takut'-nya Juilette. Suaranya keras banget. Nyanyian di bilik-bilik sebelah mungkin dianggapnya backing vocal saja.

Saat Mas Jabrik itu keluar, rahangnya juga terlihat keras tak bergerak. Tidak ada sedikit pun senyum yang dia tunjukkan saat kembali duduk ke kursinya.

"Doain, Ndra," kata Tim sambil mengeluarkan gitar dari hard case-nya. Ternyata  isinya beneran gitar, bukan barbel.

"Sip! Sukses, Tim!" seru saya sambil menepuk pundak Tim yang padatnya setara dengan Semen Gresik itu.

Dengan badan tegap, Tim masuk. Dari tempat duduk, saya bisa mendengar dia membawakan lagu-lagu country yang menjadi ciri khasnya selama ini. Senang rasanya mendengar alunan country di antara lagu-lagu pop di bilik-bilik lain. Dan doa saya hanya satu: semoga jurinya tidak ada yang dipukuli.

Beberapa menit kemudian, Tim keluar. Saya intip, jurinya masih lengkap. Berarti mereka selamat.

"Wis, masuk sana," kata Tim dengan muka lega.

"Gimana tadi di dalem?"

"Ya, gitu, wis. Nyanyi tiga lagu."

"Oooo..., tiga lagu...." Saya mengangguk. "Sip, sip."

"Jurinya baik-baik, kok. Santai ae."

Saya mengangguk lagi, pamitan ke Tim, lalu beranjak dari kursi menuju ke tirai bilik audisi. Di balik meja audisi, duduk dua orang, sebut saja Mas Juri Botak dan Mbak Juri Rambut Pendek.

"Selamat siang," sapa saya sambil tersenyum.

"Siang, siang," jawab Mas Juri Botak. Dia mengernyit memperhatikan saya. "Kamu Indra Widjaya?"

"Iya, Mas."

"Loh, saya sering lihat kamu di YouTube."

"Iya, saya juga," sambung Mbak Juri Rambut Pendek.

Situasi mendadak canggung.

"Oh, iya, Mas, Mbak. Hehehe...."

"Mau nyanyi apa?" tanya Mbak Juri Rambut Pendek.

"Rude," jawab saya, cepat. 'Rude' menjadi lagu pilihan pamungkas saya.

"Silakan."


Saturday morning jumped out of bed~
And put on my best suit~
Got in my car and raced like a jet~
All the way to you~
Knocked on your door with heart in my hand~
To ask you a question~
'Cause I know that you're an old-fashioned man~ Yeah~

Can I have your daughter for the rest of my life?
Say yes, say yes~ 'cause I need to know~
You say I'll never get your blessing 'til the day I die
Tough luck, my friend, but the answer is 'No'~

Why you gotta be so rude?
Don't you know I'm human too?
Why you gotta be so rude?
I'm gonna marry her anyway~

Marry that girl~
Marry her anyway~
Marry that girl~
Yeah, no matter what you say~
Marry that girl~
And we'll be a family~
Why you gotta be so~
Rude~


"Oke, stop." Mas Juri Botak tersenyum.

"Kamu, mah, bikin lagu sendiri aja, sana," sambung Mbak Juri Rambut Pendek.

"Siap! Nanti, deh, bikin lagu sendiri. Hehehe," jawab saya, masih canggung.

Kedua juri saling berbisik.

Saya... masih pasrah.

"Oke, Indra. Udah cukup," kata Mas Juri Botak, masih dengan senyum yang sama.

"Cukup?"

"Iya. Cukup."

Mereka berdua mempersilakan saya keluar. Nggak nyangka bakal secepat itu.

"Gimana tadi?" tanya Tim dengan nada datar.

"Cuma satu lagu. Udah. Abis itu, disuruh keluar," jawab saya, sama datarnya.

Kami berdua sama-sama pasrah. Tapi, lega udah maju. Sekarang, tinggal tunggu sampai kesepuluh orang di grup ini selesai.
Saya menghela napas.

,,,,,,

Setengah jam berlalu. Orang kesepuluh baru saja keluar dari bilik audisi. Kelompok kami pun diarahkan untuk beranjak ke tempat selanjutnya: bilik pengumuman.

Deg deg deg.

Di dalam bilik pengumuman, kami dijejerin lima-lima sesuai dengan urutan kursi audisi.

"Yang saya sebutkan namanya, berarti lolos ke video booth. Bagi yang tidak disebutkan, maaf, kalian belum bisa lanjut." Mas-mas panitia membalik halaman kertas pengumumannya. "Tim Peterson dan Indra Widjaya."

Duar.

Masih dalam keadaan nggak percaya, panitia menggiring saya dan Tim ke area video booth. Hanya dua orang yang lolos.

,,,,,,

Tahap 2: Video Booth

"Indra, Tim, kalian isi formulir dulu, ya, sambil gabung sama yang lain di ruangan ini."

Tanpa banyak tanya, saya dan Tim mengambil formulir dari mbak-mbak panitia, lalu mengisinya sambil selonjoran di ruang tunggu video booth. Sambil tengkurap, saya lirik kanan-kiri. Sudah banyak terlihat muka-muka penyanyi.

Formulir tahap video booth kali ini meliputi biodata, motivasi, cerita hidup, dan pilihan-pilihan lagu kalau nanti lolos ke babak arena audition di Jakarta. Dan di saat saya sedang mengisi kolom lagu, ada colekan misterius dari belakang.

"Bang Indra, folbek, dong! Aku udah lama follow Abang, tau!"

Wig pirang kepang duanya terlihat kaku, bedak putihnya sudah luntur sebagian, dan bercak-bercak darahyang dibuat dari lipstikdi sekitar pipinya berceceran ke mana-mana. Rupanya si Annabelle.

Suatu kehormatan bisa diminta folbek oleh Annabelle.

"Wah, halo, halo. Gimana tadi pas di bilik?" kata saya, mengalihkan pembicaraan.

"Ya, gitu, Bang. Baru nyanyi dikit, udah disuruh stop. Pas pengumuman, lolos."

Oke, perasaan saya udah mulai nggak enak. Ada tiga tipe peserta yang bakal dikirim ke Jakarta untuk arena audition: bagus, kurang bagus, dan yang aneh-aneh. Kayaknya nggak perlu dijelasin lagi si Annabelle ini masuk ke tipe yang mana.

"Oooh, iya, iya. Semoga kamu sukses, ya! Sini, foto dulu."


Selesai mengisi berlembar-lembar formulir, saya nganggur. Giliran masuk ke video booth masih lumayan lama. Yang lain pada tiduran, istirahat, dan ngobrol-ngobrol. Saya dan Tim memilih untuk cari makan di luar. Ya, sebelum mengempis, otot-otot Tim harus segera diberi asupan gizi.

Berhubung beberapa orang dari RCTI dan Fremantle tahun ini juga pernah ikut ngurusin Idol 2014, saya dan Tim jadi nggak terlalu sungkan buat minta izin cari makan di luar. Sekalian nyamperin dua wanita kesayangan buat ngasih tahu mereka kalau saya lolos ke video booth dan sebentar lagi proses big audition hari ini bakal selesai.

Setelah kenyang, saya dan Tim kembali ke ruang tunggu video booth, tepat saat kelompok kami dipanggil.

"Indra Widjaya, maju pertama."

,,,,,,

Saya membuka pintu ruang video booth dengan rileks, tanpa beban. Di dalam, saya langsung berdiri tepat di tanda X. Yang terlihat di depan saya adalah sebuah meja dengan dua mbak-mbak juri, sebuah kameralengkap dengan mas-mas cameraman, soundman, dan beberapa panitia yang saya kenali dari Idol 2014.

"Lah, elo lagi, elo lagi," sapa Mas Cameraman. "Apa kabar?"

"Baik, Mas. Hehehe," jawab saya.

"Ayo, foto dulu pake papan nama," kata Mbak Juri Sebelah Kiri.

"I-iya, Mbak."

Dari dua juri—Mbak Juri Sebelah Kiri dan Mbak Juri Sebelah Kanan, saya cuma mengenali Mbak Juri Sebelah Kanan.

Sambil memegang papan nama, saya melihat orang-orang di depan dengan bingung. "Errr..., ini..., lihat ke kamera?"

"Iye, Ndra. Kayak nggak pernah aja lo," jawab Mbak Juri Sebelah Kanan sambil menaikkan satu alisnya. Saya jadi tambah salting.

*jepret*

Belum sempat saya masang ekspresi tampan, udah difoto aja.

Mbak Juri Sebelah Kanan memandangi saya sambil mengernyit. "Loh, Ndra. Gitar lo mana?"

"Gitar?" Saya melihat ke bawah. Sempat kaget juga ditanyain gitar gini. Setelah beberapa detik, saya baru sadar emang sengaja nggak bawa gitar. "Anu, Mbak. Sengaja. Mau nyoba nggak pake gitar. Hehehe."

"Aih, sayang banget. Aneh, lo, nggak pake gitar."

"Sekali-sekali, Mbak. Hehehe."

"Ya udah, mau nyanyi lagu apa?" sambung Mbak Juri Sebelah Kiri.

"Rude."

"Nyanyi Rude nggak pake gitar?" sewot Mbak Juri Sebelah Kanan. "Ya udah, deh, Ndra. Terserah lo. Silakan."

Saya hanya tersenyum.


Saturday morning jumped out of bed~
And put on my best suit~
Got in my car and raced like a jet~
All the way to you~
Knocked on your door with heart in my hand~
To ask you a question~
'Cause I know that you're an old-fashioned man~ Yeah~

Can I have your daughter for the rest of my life?
Say yes, say yes~ 'cause I need to know~
You say I'll never get your blessing 'til the day I die
Tough luck, my friend, but the answer is 'No'~

Why you gotta be so rude?
Don't you know I'm human too?
Why you gotta be so rude?
I'm gonna marry her anyway~

Marry that girl~
Marry her anyway~
Marry that girl~
Yeah, no matter what you say~
Marry that girl~
And we'll be a family~
Why you gotta be so~
Rude~

Selesai saya nyanyi, kedua Mbak Juri lihat-lihatan.

"Hmmm." Mbak Juri Sebelah Kiri membaca formulir saya. "Dulu pernah ikut Idol, ya?"

"Iya, Mbak."

"Sampai berapa?"

"Anu. Tahun 2012, sampai 52. Kalau 2014 kemarin, sampai 100."

"Oooh.... Oke, oke."

Kedua Mbak Juri kembali lihat-lihatan.

"Yap, udah cukup. Ini, ambil kertasnya. Makasih, Ndra! Abis gini, ikutin mas-mas panitia di luar, ya," kata Mbak Juri Sebelah Kanan sambil menyodorkan sebuah kertas.

Saya mengangguk, mengambil kertasnya, lalu pamit dari video booth. Ketika membuka pintu keluar, sayup-sayup saya mendengar Mbak Juri Sebelah Kanan berbisik, "Sayang banget." Saya langsung was-was.

Dari pintu video booth, seorang Mas Panitia memandu saya ke tempat berikutnya. Biasanya, setelah video booth, lanjut ke ruang interview. Sambil jalan, saya membaca isi kertasnya. Intinya, batas akhir para peserta ditelepon untuk pengumuman lolos atau tidak lolos ke Jakarta adalah tanggal 9 Maret.

9 Maret? Optimis! batin saya.

Saya melanjutkan langkah mengikuti Mas Panitia. Kami tiba di sebuah pintu cokelat tua. Di dalam pintu itu, terasa ramai sekali. Saat membuka pintunya, Mas Panitia tersenyum.

"Pintu keluarnya lewat sini, Mas. Terima kasih."

,,,,,,

Setelah hari big audition, saya GaLau aBiZ. Dari video booth, saya langsung dibawa keluar, nggak dimasukin ke ruang interview. Sedangkan Tim dan Amel, masuk. Dinda menenangkan saya dengan kemungkinan saya nggak perlu di-interview karena udah pada kenal. Tapi, semua kemungkinan bisa terjadi. Yang pasti, sampai tanggal 9 Maret, sebisa mungkin saya ngosongin jadwal.

Hampir setiap hari saya kontak-kontakan dengan Tim dan Amel untuk saling berkabar. Tiga hari setelah big audition, Amel ditelepon. Dia lolos ke Jakarta. Saya tambah GaLau aBiZ, sementara Tim tetap angkat-angkat barbel di gym. Galau sehat.

Beberapa peserta yang nggak ditelepon duluan, mungkin, masih menunggu kalkulasi audisi dari semua kota dulu. Dinda contohnya. Waktu Idol 2014, dia baru ditelepon lima hari sebelum panggilan audisi di Jakarta. Saya dan Tim jadi agak tenang sedikit. Tapi, tetap aja GaLau aBiZ.

Kota-kota audisi terus berjalan. Dari Surabaya, Medan, Yogyakarta, Bandung, sampai yang paling terakhir, Jakarta. Saya belum juga ditelepon. Di sisi lain, Tim sudah beberapa kali ditelepon, tapi hanya untuk ditanya-tanya seputar kehidupannya. Belum ada suruhan ke Jakarta. Perasaan saya mulai nggak enak.

Pada akhirnya, firasat-firasat jelek saya terbukti. Beberapa hari sebelum tanggal 9 Maret, saya ngelihat di timeline LINE Amel: dia nge-post foto lagi di bandara Soekarno-Hatta bersama dengan panitia-panitia berkaus X Factor. Itu artinya, semua kloter audisi Surabaya udah kepilih semua. Saya masih di rumah, dan Tim masih di gym.

,,,,,,

Begitulah perjalanan X Factor saya tahun ini. Apes. Mungkin juga belum jalannya. Pasti ada hikmah di balik semua ini. Tidak perlulah saya cuap-cuap lagi soal kegagalan, karena di buku Idol Gagal sudah saya curahkan semua. Kalau masih gagal begini, tentu tidak akan menghentikan saya. Udah kebal, Cuy.

Untuk wisuda UB, saya akhirnya dapat periode ke-8, antara April sampai Mei 2015. Waktu sakral itu akan tiba juga. *sisir rambut*

Dan sekarang, untuk memulai suasana baru, saya juga potong rambut ala-ala undercut gitu. Dan... bisa, euy! Rambutnya kepotong! Bisa pakai sisir juga! Lumayanlah. Bosan juga kribo bertahun-tahun. Biarkan kepala saya menghirup oksigen dengan leluasa dulu. Soalnya... nanti bakal kribo lagi. Eaaa~

Oh, iya. Berat badan saya tidak turun banyak setelah potong rambut. Ini rambut kribo, bukan bola bowling.


,,,,,,

Gimana blog post kali ini? Panjang? Puas? Udah kayak baca satu bab buku, kan? Untuk buku selanjutnya, masih baru akan dimulai. Tentu saja temanya bakal berbeda. Nggak bakal ada soal audisi-audisi, gagal-gagal, dan sejenisnya. Will be totally different. Ditunggu, ya!

Well, that's it.

Mari, bikin buku ketiga.


,,,,,,

Terima Kasih Sudah Membaca!

29 Komentar

  1. wuuuhh akhirnya selesai jg bacanya
    Sebenernyaa udh nunguin bgt bs liat mas indra di tipi
    Tapi yah.. Dak papo mas dak papo
    Sekarang yang penting,ditungguin buku baruny lagi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu, mah, update mulu.

      Siaaappppp! Ditunggu, ya! :D

      Hapus
    2. Jangan lelah liat aku dimana mana ya mass.. :p

      Hapus
  2. Nyoba casting sinetron GGS aja mas, kali aja masih dapet peran Vampire😔

    BalasHapus
  3. Pan. Jang. Sering main blog aja ndra. Temenin gue Hehehe. \:D/

    BalasHapus
  4. hahaha nice bang nice, olahraga mata doloo...

    BalasHapus
  5. Sabar ya, Bang. Elo tetap jadi pemenang kok di hati gue meskipun gagal X Factor.

    BalasHapus
  6. Tuh kan, Ndra. Lagu ciptaan sendirinya ayo direalisasikan. :P

    BalasHapus
  7. Done ya mas! :)

    Jadi bingung mau comment apa. Sedikit kecewa si *lah ngape jadi eug yang kecewa?* Iya jelas kecewa, padahal udah ditunggu bgt semoga lolos terus tayang ditipi.
    Tapi yaudahlahya, ga jadi maaalah.
    Sukses terus ya bang! Ditunggu buku ketiganya, ditunggu talk show bukunya juga *kali ini harus dateng, tahun kemarin sempet mau dateng yang dibekasi*

    BalasHapus
  8. Sedikit kecewa karena gak bakal ngeliat mas Indra di tipi, tapi bakalan seneng banget kalo buku ketiganya segera keluar! Ditunggu ya, mas!

    BalasHapus
  9. Besok giliran rising star bang, sapatau hoki :D

    BalasHapus
  10. Padahal aku nunggu Kak Indra di ajangnya ini.. Tapi gaapa, aku tetap mendukungmu, kak!!!
    Semangat!!!!!!

    BalasHapus
  11. Ngamen di Padang lagi aja bang :)

    BalasHapus
  12. Bikin lagu sendiri aja, jangan manja.

    BalasHapus
  13. Bang kenapa ga ikutan lagi tgl 15? Sedih ga bisa liat di tv :'(

    BalasHapus
  14. tadinya malahan aku pikir potong rambut gara-gara disuruh mas dani..hahaaa

    BalasHapus
  15. Semangat mas indra. Sukses buku ketiganya. Kalau bisa tahun ini main lagi kepadang. Siapa tau bisa ngegawl di taplau lagi mas indra nya. Hahaha

    BalasHapus
  16. semangat mas, coba aja lagi tahun depan :-D

    BalasHapus
  17. Ditunggu buku ketiganya! Semangat terus buat nulis!

    BalasHapus
  18. Enak banget kemana-mana ditemenin sama pacar...

    BalasHapus
  19. ditunggu buku ketiganya mas hehe biat bisa talk show di bekasi lagi :)

    BalasHapus
  20. Panjang banget bang post nya ,haha
    Gapapa bang gagal, aku juga gak lolos kok :D

    BalasHapus
  21. Emang belum rejekinya, Kak. Nggakpapa. Tetap semangat dan berkarya!

    Ditunggu buku ketiganyaaaaa. Can't wait >,<
    Bekasi kudu ada di daftar kunjungan talkshow buku ketiga, ya!

    BalasHapus

Popular Posts

CONTACT ME!

Nama

Email *

Pesan *