Sebuah Cerita Tentang Pulau Wowoni

16.43

Setiap Lebaran, gue selalu punya dua opsi kota untuk mudik: Malang (keluarga almarhum Bokap) dan Kendari (keluarga Nyokap). Yap, multikultural.

Dulu, selama keluarga masih nomaden (keliling Balikpapan-Lembang-Banjarmasin ngikut dinasnya almarhum Bokap), gue dan adik gue selalu excited saat mudik. Waktu masih berstatus bocah SD di Balikpapan, gue selalu histeris setiap naik becak di Malang. Adik gue selalu cengengesan setiap mandi-mandi di Kendari Beach. Sungguh, masa-masa kecil yang penuh kenangan.

Sekitar tahun 2007, keluarga gue akhirnya menetap di Malang. Gue pun udah nggak histeris lagi ngelihat becak. Gue udah terbiasa dengan suasana Malang yang sekarang: masih tetap dingin, asri, rindang, dan... mulai macet.

,,,,,,

Tahun 2013, empat tahun setelah kepergian Bokap, Nyokap mengajak gue dan adik gue untuk Lebaran ke Kendari. Kendari adalah Ibu Kota Sulawesi Tenggara. Yang masih belum tahu, Kendari adalah Ibu Kota Sulawesi Tenggara yang terletak di arah pukul lima Pulau Sulawesi. Silakan tengok di peta.

“Nanti kita main-main ke Pulau Wowoni, ya,” ucap Nyokap seturun kami di Bandara Haluoleo, Kendari.

Pulau Wowoni adalah tanah kelahiran orangtuanya Nyokap. Untuk ke sana, satu-satunya rute yang bisa ditempuh adalah lewat laut, entah itu memakai boat atau kapal penyeberangan. Tidak disarankan berenang. Bahaya kalau kaki keram di tengah perjalanan.

Bersama dengan keluarga besar, gue sampai ke Pulau Wowoni setelah menempuh hampir satu jam perjalanan dengan kapal penyeberangan.
                
Ada beberapa hal yang gue ingat dari Pulau Wowoni. Waktu masih umur 6 tahun, gue ingat betapa kerennya rumah-rumah kayu di atas air. Masih terngiang betapa bahagianya gue mainan air dari rumah ke rumah dengan bertelanjang dada, dilanjutkan dengan main ke area “air bajo” dengan boots merah andalah gue waktu itu (supaya kaki nggak kena bulu babi). Sisanya, ingatan gue masih samar-samar. Dan ini adalah saat yang tepat untuk membangunkan kembali memori itu.

,,,,,,
               
Selama beberapa hari di Pulau Wowoni, gue masih merasakan atmosfer yang sama.

Di mata gue, rumah-rumah di atas airnya masih keren. Keluarga besar Nenek cukup tersebar di Pulau Wowoni ini, jadi—enaknya—gue bisa bebas pilih mau tidur di rumah yang mana. Saat bangun pagi dan menengok ke belakang rumah, pemandangan yang gue dapati adalah seperti ini.

Nyokap (di atas perahu) bersama sepupu-sepupu sedang “mandi pagi”.


Selain berkumpul bersama keluarga besar, yang paling gue rindukan setiap pulang ke kampung Nyokap adalah makanannya: ikan-ikan, beragam kerang, pisang ijo, pisang epe, dan yang paling khas adalah sinonggi/papeda. Di Kendari dan sekitarnya, kita masih akan menemukan orang yang memikul ember berisi ikan-ikan segar yang lewat di depan rumah setiap hari. Tentunya ini tidak gue temukan di Malang.


Kebersamaan Lebaran dan suara tawa keluarga saat kumpul-kumpul bakar ikan pada malam hari bagi gue adalah suatu momen yang sangat berharga. Dan kalau ada waktu lagi, tentu gue akan dengan senang hati kembali ke sana.

,,,,,,

Terima Kasih Sudah Membaca!

1 Komentar

Popular Posts

CONTACT ME!

Nama

Email *

Pesan *